Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 April 2017



 

Sebagai orang Indonesia, saya yakin banyak dari kita menyingkat Indonesia menjadi Indo. Alasannya sederhana, make it simpler. Hem nama kok disingkat-singkat. Nama itu jati diri kawan.

Sebenernya, nggak baik juga memendekkannya menjadi Indo, karena Indo memiliki arti yang berbeda dari Indonesia. Jika Indonesia adalah nama negara, Indo adalah Indo-European. Gampangnya, itu adalah etnis yang merupakan keturunan campuran Hindia Belanda dan Eropa. Hindia Belanda = Indonesia. 

Ratusan tahun dijajah Belanda, banyak dari orang Indo yang tinggal di Indonesia adalah percampuran antara orang Indonesia dan Belanda, mereka sering disebut Indo-Belanda. Meskipun ada banyak juga yang percampuran dengan Jerman, Belgia, Inggris, Prancis, dll. Ada pula yang menyebut mixed Indonesia - Turki dengan sebutan Indo Turki, ataupun mixed dengan arab disebut Indo Arab.

Mungkin karena kuatnya akar jajahan Belanda disini, banyak sekali orang Indo yang ditemukan di Indonesia maupun di Belanda. Nenek saya adalah orang Indo keturunan Belanda, ibunya seorang Indonesia yang (agaknya juga adalah orang Indo karena dimakamkan di Kembang Kuning di Surabaya yang khusus makam orang Belanda dulunya, sekarang sih bisa untuk orang katolik, tionghoa ataupun kristen) menikah dengan orang Belanda. Lahirlah nenek saya yang disebut orang Indo. Bapak kos saya juga orang Indo. 

Tak hanya di Indonesia saja yang mudah ditemukan orang Indo, di Belanda pun juga mudah ditemukan orang Indo. Tetangganya orangtua partner hidup saya pun juga banyak yang Indo. Banyak dari mereka yang merupakan mixed Indonesia bagian timur dengan Belanda.

Keterikatan sejarah yang sangat kental dan lama antara kedua bangsa menyebabkan banyak orang Indo yang terjebak di Indonesia dan tak bisa pulang ke Belanda, begitupun sebaliknya. 

Why do I have concern in saying Indo and Indonesia? Karena itu memang berbeda adanya. Keluarga saya sudah terbiasa menyebut nenek saya seorang Indo, sedangkan kami adalah orang Indonesia, yang tentu kedua hal tersebut adalah berbeda meskipun nenek adalah seorang Indo yang berkewarganegaraan Indonesia. 
  
Are you an Indo? or you have relatives that are Indo? Let us know, let's discuss more about it 😀

Pr/Br

Minggu, 12 Maret 2017


Sejarah dalam hidup kita memang tak bisa tergantikan oleh apapun,baik maupun buruk.Sudah sering kita dengarkan sejarah atau perjalanan hidup seseorang dalam merahi kesuksesannya dan itu adalah sesuatu hal yg biasa menurut saya, orang telah mencapai kesuksesan selalu menularkan ilmunya dengan menceritakan pengalaman hidup mereka.
Aku ini orang yg tidak begitu suka denga sesuatu yg meinstream atau melakukan hal yg sama seperti yg di lakukan kebanyakan orang, atau mungkin tidak ada hal baik yg bisa saya bagikan?atau karna saya belum sukses?Entah, tapi yg harus kalian tau, aku bukan tipikal orang yg plagiat, yg mudah terbawa arus cara hidup seseorang.
Di tulisanku kali ini, aku mencoba menceritakan sejarah atau perjalanan buruk hidupku, yg sampai hari ini tetapku lakukan, padahal hari ini pun, kepala ku pusing akibat kebiasan burukku tersebut.

Ya,merokok!!! merokok adalah kebiasaan buruk yg berdampak tidak baik terhadap kesehatan seseorang, karna banyak racun yg terkandung dalam setiap batang rokok, bukan hanya perokok active saja namun orang sekitar juga mendapatkan effect negative dari asap rokok yg mereka hirup.

Pertama kali mengenal rokok, saat aku masih SD, dimana lingkungan ku adalah lingkungan perokok, dari mulai saudara teman teman ku semua perokok, jadi itu membuat rokok tidak begitu asing bagi ku.

Sebuah Masjid sekitar tempatku menempuh pendidikan menengah Atas (SMU) menjadi saksi bisu sejarah hidupku, dalam merubah ku dari perokok Pasif menjadi Aktive. Saat itu temanku mencekoki aku rokok, dengan rangkaian kata profokatif, sehingga menjadikan ku tertarik untuk mencoba menghisap sebatang rokok, dia bilang, "laki laki sejati itu harus merokok, atau jangan jangan, kamu ini banci?" haha... jebakan bodoh yg pernah ku tau, akan tetapi aku tetap masuk dalam jebakan itu, "benar benar masih lugu waktu itu".


Sebatang rokok Surya, yg mencoretkan tinta sejarah dalam hidupku menjadi seorang pemberontak, seorang remaja yg sedang mencari identitas hidupnya berani mengambil langkah dengan melanggar nasehat orang tuanya, DILARANG MEROKOK
Rokok Surya tetap di produksi sampai sekarang Alhasil walaupun banyak perusahaan rokok ternama yg memproduksi rokok dengan cita rasa baru, tetap saja setiap kali ku mencoba rokok baru itu, aku akan kembali membeli Rokok Surya, bukan karna rasanya yg tak tersaingi, namun lebih dari esensial Sejarahku yg terdapat pada rokok Surya tersebut.




Br/Pr

 
taken from hotel-majapahit.com. bentuk pertama Oranje Hotel

Kota Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Tentu saja, menjadi salah satu kota penting semasa perjuangan Indonesia. Melihat pentingnya kota ini, sudah tentu ada banyak sekali bangunan bersejarah di Kota Surabaya. Banyak yang sudah usang, tapi masih ada juga yang masih berfungsi seperti sediakala.

Kali ini, kita akan menuju Hotel Majapahit. Hotel yang terletak di daerah tunjungan ini merupakan salah satu hotel penting sebagai tonggak perjuangan bangsa. Mungkin lebih banyak dari kita yang mengenalnya sebagai Hotel Yamato. Masih ingatkah kalian dengan Hotel Yamato??

Let's recall for a bit, hotel yang bernama asli Hotel Oranje ini dibangun pada tahun 1911 oleh Sarkies bersaudara. Ini keluarga bener-bener kaya, mereka membangun jaringan perhotelan yang ada di Indonesia seperti Hotel Niagara di Lawang, Hotel Sarkies di Batu (sekarang Hotel Kartika Wijaya), dan juga Hotel Rafless di Singapura (salah satu hotel termahal).

 


Bergaya Art deco, hotel ini masih mempertahankan bentuk aslinya. 90% bentuk hotel masih asli dari tahun pertama di bangun. Memang ada beberapa sisi yang direnovasi, tapi tetap tidak menghilangkan jiwa aslinya.

Kenapa hotel ini menjadi penting saat masa penjajahan? Bendera Belanda disobek ditiang atas hotel ini. Merah putih biru disobek birunya menjadi merah putih. Ahh saya yakin, kalian sekarang ingat kan dengan kejadian heroik tersebut? Pasti inget! Kalo nggak inget, sejarah dapet berapa nak??

Begitu masuk kedalam hotel ini, hmmm seketika kalian akan dibawa menuju ke masa kolonial. Aroma kemewahan kolonialisme tergambar begitu jelas di dalam hotel ini. Di bagian lobi, bisa dilihat foto pertama hotel ini dibangun, dan juga lukisan penyobekan bendera merah putih biru. Desain bangunan yang masih asli membawa kita kembali ke masa itu.


Btw, kejadian merobek bendera itu terjadi tanggal 19 September (CMIIW, karena bendera dinaikkan tanggal 18 September 1945 dan hari berikutnya pemuda Surabaya terprovokasi) ya, bukan 10 November. Tapi setiap tanggal 10 November biasanya diadakan adegan mengenang penyobekan bendera di hotel ini.

Setelah pemindahkekuasaan hotel ini dari tangan Belanda ke Jepang, akhirnya hotel ini dibeli investor lokal dan merenovasinya secara keseluruhan, dan kemudian membukanya kembali dengan nama Hotel Majapahit. Hotel bintang lima yang tak terlihat 'sombong' dengan label bintang limanya.


source : Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia, Emile Leushuis dan dokumen pribadi 

For personal review can be read here 

Pr/Br

Minggu, 12 Februari 2017


Sesuai kesepakatan kita berdua (saya dan Prisca penulis Renjana), Minggu kedua Renjana akan menyajikan tulisan tentang Sejarah. Menulis Sejarah menurut saya hal yg paling memusingkan hehe..., karena selain harus berhati hati,saya juga diharuskan membaca referensi tentang Sejarah dari penulis penulis sebelumnya apalagi jika saling berterkaitan jalan ceritanya.

Masih di wilayah Sidoarjo dekat tempat tinggal saya,konon di dekat daerah Sidoarjo terdapat Kerajaan legenda Hindu Budha di Indonesia.
Ya... Majapahit Kerjaan yg menurut sejarahnya adalah kerajaan paling berkuasa di pulau Jawa.Tidak hanya di pulau jawa, Kekuasaan Majapahit juga ada yg di luar pulau jawa bahkan di Asia Tenggara, ini ditandai dari penemuhan peninggalan kuno di daerah daerah tersebut seperti penemuan patung patung yg miliki kemiripan dengan peninggalan Majapahit, serta penemuan Pararaton (Kitab Kitab Raja) yg menceritakan sedikit tentang sejarah Majapahit.
Besarnya kerjaan Majapahit tidak lepas dari Kontribusi para Rajanya sebut saja salah satunya Raden Wijaya Pendiri Majapahit, Hayam Wuruk Raja yg mengantarkan Majapahit pada puncak kejayaan bersama panglima perangnya Gajah Madah,  Brawijaya V pemegang tonggak Raja terahkir Majapahit.

Kebetulah saya pernah mendengar kabar jika di daerah Sidoarjo ada sebuah makam perempuan dimana yg menurut cerita penduduk setempat perempuan tersebut merupakan cicit dari Prabu Brawijaya, cerita ini menggugah ketertarikan saya untuk mendatangi tempat tersebut.Ya sebagai orang yg di besarkan di Jawa, setidaknya saya tau sejarah peradapan di Tanah leluhur saya.
Makam ini belokasi di daerah Terung Wetan tepatnya RW 02 Desa Terung Wetan Sidoarjo, di sinyalir oleh penduduk setempat adalah makam dari Putri Ayu,identitas makan di tuliskan juga pada prastasti di sekitar pintu masuk makam.
 

Tak jauh dari prastasti ada sebuah pendopo yg letaknya tepat di depan pintu masuk makam Putri Ayu. Menurut keterang orang setempat yg saya temui di area pendopo mengatakan jika makam ini selalu ada pengunjung dengan bermacam macam tujuan, ada yg bertujuan untuk berziara kemakam leluhur, ada pula yg bertujuan sama dengan saya yaitu menggali informasi/cerita (biasanya yg bertujuan menggali informasi/cerita adalah wartawan dan anak sekolah). Selain pendopo di area Makan juga disediahkan fasilitas musolah dan toilet umum untuk para pengunjung.
Mungkin para pembaca bertanya siapa yg membangun fasilitas tersebut? saya mencoba menggali informasi dari bapak bapak yg kebetulan berada di pendopo, mereka memberitahukan bahwa bangunan pendopo di bangun oleh Pemerintah sebelum tahun 1965 guna melestarikan dan menghormati peninggalan bersejarah Nenek Moyang Indonesia, dan di pugar kembali di tahun 2014.


Pendopo
Musola
                                   

Toilet Umum
Pasti para pembaca penasaran, bagaimana sih, bentuk makam bersejarah ini? Tenang, saya juga penasaran kok, tidak sabar ingin segera mengetahui wujud makam tersebut, tapi saya harus menunggu pengunjung yg sudah terlebih dahulu masuk kedalam makam, kurang sopan rasanya jika saya memaksa mengambil foto bersama pengunjung lainnya yg sedang melakukan kegiatan berziarah, takutnya saya mengganggu kekusukan ritual yg sedang mereka lakukan hehe...
Sambil menunggu pengunjung di dalam keluar, saya duduk di pendopo dan kebetulan suasan saat itu sedang turun hujan, saya menenggak secangkir kopi yg di sediahkan oleh warga yg berada di pendopo.


Tak lama kemudian, perziarah makam Putri Ayu keluar,warga mempersilakan saya untuk masuk kedalam. Wah rasanya menengangkan masuk ke makam, malam hari sedirian lagi, saya yakin kalian belum pernah merasakan pengalaman menegangkan ini.
Selain membangun fasilitas pendukung, agar makam ini tetap terjaga dan tidak cepat rusak pemerintah membangun sebuah kamar berukuran 4x5 untuk melindungi makan dari panas matahari dan hujan. Pintu kamar makam yg berwarna coklat seleret putih ukurannya kecil sehingga jika kita mau masuk kedalam, harus menundukan kepala kita agar tidak terbentur dinding pintu, di tembok atas pintu terukir naman Raden Ayu Putri di bawahnya tulisan dengan aksen aksara jawanya. Untuk membuka pintu, terlebih dahulu harus melewati tangga pintu yg terbuat dari batu bata, batu bata ini berukuran besar tidak seperti batu bata biasanya. Menurut informasi warga, batu ini adalah batu puing puing bangunan peninggalan kerajaan Terung yg di temukan 2 Meter di bawah Tanah perkarangan di depan Makan.
Pintu kamar Makam Raden Ayu Putri

Saya memberanikan diri masuk kedalam,ternyata setelah saya masuk kedalam kamar makan itu, makam tidak seseram seperti bayangan saya. Makam dari batu marmer ini, kelihatannya sudah mengalami pemugaran juga, di sekitar makam di beri selambu dan pagar yg terbuat dari alminium, mungkin bertujuan agar makan kramat ini tidak sembarang di sentuh oleh  pengunjung/perziarah.

Saya mencoba mendekat ke makam untuk mengambil gambar,sayangnya saat itu saya hanya membawa dan mengambil gambar dengan camera hp saya, (maklum journalist amatiran) jadi gambarnya kurang jelas (maaf ya para pembaca (*_*)).

Ya, walaupun ruangan itu tidak seperti yg ada di bayangan saya, berada di sana sendirian cukup membuat bulu kuduk saya berdiri, saya memutuskan tidak belama lama di tempat itu dan bergegas keluar hehe...
Makan Raden Ayu Putri (Pic1)
Makam Raden Ayu Putri (Pic 2)


Setelah membaca tulisan saya tentang keberadaan dan bentuk makan, para pembaca pasti penasaran tentang kisah atau silsilah hubungan dari Raden Putri Ayu dengan Prabu Brawijaya dimana saya berani menuliskan pada judul artikel blog tentang Sejarah Renjana ini, dengan judul cicit Prabu Brawijaya

Sebelumnya saya bercerita, saya perkenalkan terlebih dahulu dengan bapak yg berada di sebelah saya (pada foto di bawah). Beliau sering di panggil warga sekitar dengan panggilan pak Suep, pak Suep adalah juru kunci makam Raden Putri Ayu, Rumah beliau berjarak 100 meter dari makan, beliau membuka sebuah warung kopi. pak Sueplah yg memberikan saya informasi tentang asal usul Raden Ayu Putri.

Dahulu di kisahkan ada Raksasa wanita yg tertarik dengan ke gagahan Prabu Wijaya, Raksasa itu merubah dirinya menjadi gadis yg cantik bernama Endang Sasmintapura,dan segera ditemukan oleh patih Majapahit (yang juga bernama Gajah Mada) di dalam pasar kota. Sasmintapura pun dipersembahkan kepada Brawijaya untuk dijadikan istri

Namun, ketika sedang mengandung, Sasmintapura kembali ke wujud raksasa karena makan daging mentah. Ia pun diusir oleh Brawijaya sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan. Putra sulung Brawijaya itu diberi nama Jaka Dilah.

Setelah dewasa Jaka Dilah mengabdi ke Majapahit. Ketika Brawijaya ingin berburu, Jaka Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan di halaman istana. Brawijaya sangat gembira melihatnya dan akhirnya sudi mengakui Jaka Dilah sebagai putranya

Jaka Dilah kemudian diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Arya Damar. Sementara itu Brawijaya telah menceraikan seorang selirnya yang berdarah Cina karena permaisurinya yang bernama Ratu Dwarawati (Putri Campa) merasa cemburu. Putri Cina itu diserahkan kepada Arya Damar untuk dijadikan istri.

Arya Damar membawa putri Cina ke Palembang. Wanita itu melahirkan putra Brawijaya yang diberi nama Raden Patah. Kemudian dari pernikahan dengan Arya Damar, lahir Raden Kusen. Dengan demikian terciptalah suatu silsilah yang rumit antara Arya Damar, Raden Patah, dan Raden Kusen.
Setelah dewasa, Raden Patah dan Raden Kusen meninggalkan Palembang menuju Jawa. Raden Patah akhirnya menjadi raja Demak pertama, dengan bergelar Panembahan Jimbun dan Raden Kusen menjadi raja di kerajaan Terung dengan bergelar Adipati Kusen, dan Raden Putri Ayu adalah putri dari Adipati Terus sehingga bisa dikatakan Raden Ayu Putri adalah cicit dari Raja Terahkir Prabu Brawijaya.

Saya akan membagi cerita sedikit kisah dari Raden Ayu Putri. Saat Remaja, Raden Ayu Putri suka sekali bermain masak masakan,layaknya remaja seumurannya, dengan bunga seolah olah sebagai sayur, ia memotong bunga itu layaknya memotong sayur.

Ketika selesai bermain, pisau yg ia gunakan ia pangku tak berapa lama pisau itu menghilang. Bertepatan dengan menghilangnya pisau, tiba tiba Raden Ayu Putri mengandung.
Ayahanda yg tidak lain adalah Adipati Terung, marah besar dan bertanya kepada putrinya, "Siapa yang telah menghamilimu, putriku?", Raden Ayu Putri menjelaskan bahwa kandungannya tersebut di sebabkan oleh pisau yg tiba tiba menghilang, Adipati terung bertambah marah, ia mengira anaknya berbohong untuk menutupi aib tersebut.

Melihat ketidak percayaan Ayahnya, Raden Putri Ayu mengambil keputusan berani dengan membunuh dirinya sendiri, sebelum ia melakukan itu, ia berpesan pada Ayahnya di depan rakyat Terung, jika darah yg keluar dari tubuhnya beraroma wangi, maka apa yg ia katakan, bahwa Ayah anak yg di kandungnya itu merupakan sebuah pisau, benar, dan setelah saya meninggal saya meminta agar Ayahanda tidak mengubur jasad saya melainkan membuangnya ke bengawan di wilayah terung (konon ceritanya makam Putri dan sekitarnya dahulu adalah sebuah bengawan).

Dan benar, setelah Raden Putri Ayu meninggal, darah yg di keluarkannya beraroma Wangi, dan ketika jasad di buang ke bengawan, bengawan itu tiba tiba membentuk sebuah pusaran yg di mana air bengawan seperti di sedot kedalam Tanah, jadi lah Bengawan tersebut sebuah daratan yg sampai sekarang daratan itu menjadi perkampungan  warga Terung.

Para pembaca, itulah sedikit Alkisah dari Raden Putri Ayu, semoga teman teman terpuaskan dahaga Sejarah tentang Nenek Moyang Indonesia oleh tulisan saya tentang Makam Cicit Prabu Brawijaya.


Br/Pr 



Pulau Lombok  memang terkenal sebagai pulau dengan sebagian besar penduduknya adalah muslim, tapi tahukah kalian jika Lombok juga menyisakan bukti kejayaan Hindu di pulau tersebut?

Majapahit yang sangat terkenal tersebut ditengarai memegang peranan penting dalam setiap penyebaran hindu ke seluruh Indonesia. How come? Patihnya yang bernama Gajah Mada tersebut melakukan ekspedisi ke Bali untuk memperluas wilayah kekuasaannya termasuk menyebarkan agama hindu. Singkat cerita, kalian bisa cek beberapa kesamaan aksara antara Jawa, Bali dan Lombok. Memang berbeda, tapi masih terdapat kesamaannya. Saya sebagai seorang asli Jawa Timur yang pernah belajar hanacaraka, ketika ke Bali seketika merasa ‘Woah!! Aksaranya mirip!’. Ketika mengunjungi Pulau Lombok pun, saya tak kalah kagetnya ketika melihat aksara mirip aksara Jawa yang dituliskan di jalan sebagai penanda jalan. Kalau kalian pernah ke Jogja, kalian pasti pernah melihat penanda jalan berwarna hijau yang bertuliskan aksara Jawa. Nah di Lombok pun mirip seperti itu. Mengapa bisa seperti itu? Karena setelah diteliti pengaruh Majapahit yang terlalu kuat sampai di Pulau Bali, dan dari Pulau Bali dibawa menuju Pulau Lombok. 

gerbang depan sebelum masuk area Pura. terdapat tali kuning sebagai syarat masuk kedalam pura


jalan menuju pintu kedua kearah bangunan utama

Salah satu jejak hindu bisa dilihat di Pulau Lombok adalah Pura Meru. Pura meru merupakan sisa peninggalan hindu, yang terbesar dan pura hindu kedua yang penting di Lombok. Pura di bangun pada tahun 1720 dan didedikasikan untuk trinitas hindu (Brahma, Vishnu dan Shiva). Meru sendiri konon singkatan dari gunung semeru karena yang membangun pura ini masih merupakan keturunan Singosari (CMIIW). Meru ini juga menyimbolkan tentang kesucian tiga gunung yaitu Gunung Rinjani, Gunung Agung dan Gunung Bromo. Terdiri dari 11 tingkat diperuntukkan Shiva, dan masing-masing 9 tingkat untuk Brahma dan Vishnu. 

karma does exist

 
Pura meru, bangunan utama

 
gerbang yang berada tepat ditengah menuju dan keluar bangunan utama

Pura Meru terletak di Jalan Selaparang cenderung berwarna oranye bata. Untuk bisa memasuki lingkungan pura ini, pengunjung membayar 10ribu rupiah dan akan dipinjami sepotong tali untuk digunakan untuk mengikat, selayaknya sarung yang digunakan di Prambanan ataupun Borobudur. Tersedia guide yang akan memandu pengunjung. Dengan corak warna oranye, lingkungan pura terbilang sepi dari pengunjung. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu luas, namun cukup berperan penting bagi kejayaan hindu di masa itu.
 


Note : all pictures are taken by me. This is copyright to silverestrella image

Pr/Br

Minggu, 15 Januari 2017

Di Artikel pertama Blog Dua Renjana, saya akan membawa pembaca flashback Sejarah Indonesia pada kejadian pemberontakan PKI th 1965.

Jika kita mendengar atau membaca tulisan PKI pasti kata kata pertama yg keluar dari kepala kita adalah pemberontakan. Ya, benar PKI adalah sebuah organisasi atau partai buruh yg menganut Ideologi komunis yg dahulu bernama ISDV didirikan pertama kali oleh Henk Sneevliet dengan mengusung ideologi Marxisme dan sosialis.

Tepatnya pada tanggal 5 Agustus th 1919 dalam konggres Komunis internasional di Moskow, Lenin menyerukan keseragaman nama untuk semua gerakan Komunis diseluruh dunia, ini yg mendorong organisasi  ISDV ( Indies Social Democratic Association ) mengubah namanya menjadi Partai Komunis Hindia Belanda yg lebih di kenal namanya sekarang dengan PKI.

Pada kepemimpinan Musso, pemberontak PKI pertama kali melakukan serangannya di tahun 1926, namun dapat di patahkan oleh pemerintahan penjajah Hindia Belanda,Musso dan Alimin tertangkap dan di asingkan

Musso kembali dari pengasingannya ke Tanah air pada tgl 11 Agustus 1948 melewati jalur Jogyakarta. Pada tgl 5 September 1948 di Madiun, Musso meproklamasikan kemerdekan PKI dan menyarankan Republik Indonesia merapat ke pangkuan Uni Siovet, Namun pada tgl 30 September 1948 pembrontakan PKI dapat di hentikan oleh Militer, ini di tandai dengan tebunuhnya Pimpinan tertinggi PKI Musso.

Di tahun 1951 di bawah kepemimpinan DN Aidit PKI organisasi komunis di Indonesia berkembang menjadi salah satu organisasi komunis terbesar di dunia setelah Uni Siovet dan Tingokok, memiliki hampir 20 jt pengikut.D,N Aidit  mengembangkan sejumlah gagasan diantaranya dengan mendirikan berbagai kelompok seperti Pemuda Rakyat, Garwani, Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Lenkra (kelompok para seniman)

PKI mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1965, menjadi partai terbesar di Indonesia dan semakin berani memperlihatkan kencenderungan pada kekuasaan,

Saya tertarik untuk mengali kembali kejadian pemberontakan PKI di daerah tempat tinggal saya Sidoarjo.
Gayung pun bersambut, salah seorang atasan di tempat saya bekerja, adalah cucu dari seorang anggota TNI yg bertempat tinggal di Kampung yg sebagian besar penduduknya adalah anggota PKI.

Keluarganya bisa di katakan merupakan salah satu saksi Sejarah keperkasaan PKI pada saat itu, dimana gagasan D,N Aidit dalam pembentukan kelompok organisasi PKI di aplikasikan dengan baik oleh anggota anggota di seluruh Jawa tak terkecuali di Sidoarjo.

Semua masyarakat yang terhimpun dalam organisasi komunis PKI berbondong bondong melakukan perampasan Tanah milik pemerintah dan milik perorangan, untuk di bagi bagikan kepada kaum buruh dan tani (anggota PKI), mereka tidak segan untuk membantai siapa pun yg melawan mereka, dengan berpegang dari slogan (Slogan milik Lenin)  yang selalu diteriakan D,N Aidit di setiap pidatonya, "Siapa yg bersebrangan dengan kita mereka adalah musuh kita".

Tidak sampai di situ saja, mereka juga memaksa penduduk sekitarnya untuk masuk menjadi anggota organisasi PKI, dengan ancaman, warga yg tidak sepaham Rumahnya akan di bumi hanguskan. Kebetulan kakek narasumber saya adalah seorang anggota TNI (sebut saja namanya pak Sukirman), beliau tidak takut atas ancaman tersebut,ketegangan ketengan terjadi di mana mana, kondisi saat itu kacau balau, PKI melakukan intimidasi terhadap semua warga desa sehingga warga ketakutan tidak ada yg berani keluar rumah,bahkan ada yg secara terpaksa mengikuti kemauan PKI di rekut menjadi tentara kelima bentukan PKI dan yg wanita menjadi pasukan Gerwani, tak banyak pula yg pergi meninggalkan kampung bersama keluarganya guna mengamankan diri mereka.


*** 
bersambung 



Br/Pr



This might be the first article to be published and I will write it in Indonesian. This week theme is about history.

Pernah berkunjung ke Kota Malang? Atau pernah tinggal di Kota Malang? Pasti pernah tahu bahasa asli orang Malang dong. Arema (arek Malang) menyebutnya boso walikan. Boso walikan yang artinya bahasa dibalik ini salah satu identitas orang Malang.


Meski tidak tinggal di Malang lagi, saya dirumah terbiasa menggunakan bahasa yang diucapkan terbalik ini. Karena papa yang asli Malang dan saya yang pernah tinggal di Malang selama 6 tahun, membuat lidah ini sudah secara otomatis mengucap bahasa yang dibalik ini. 

But do you know when this is started? 


Ceritanya, Kota Malang di jaman penjajahan dulu merupakan salah satu kota yang penting setelah Surabaya. Letaknya yang strategis membuat Kota Malang ditunjuk menjadi garnisun pada jaman penjajahan. Bahasa yang dipergunakan kala itu tentu saja Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda. Menurut sejarah, di tahun 1949 penggunaan bahasa ini pada  digunakan sebagai bahasa sandi. Kala itu banyak orang Malang yang menjadi mata-mata Belanda, sehingga para pejuang memutuskan untuk menggunakan bahasa sandi yang hanya mereka ketahui sendiri. 

Bahasanya dibalik dari bahasa apa?  

Bahasanya dibalik dari Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Tidak semua kata bisa dibalik dan memang hanya orang Malang asli yang paham betul bagaimana menggunakannya. Meskipun menggunakan Bahasa Jawa, tidak semua orang Jawa bisa membaliknya dengan mudah selihai orang Malang sendiri. Karena mengucapkan hal seperti itu seolah butuh kamus tersendiri dan kebiasaan. 

Contoh penggunaan boso walikan :

Ker, ayok nakam oges lecep dek rasap! Ewul ayas’ (Rek, ayo makan sego pecel dek pasar! Luwe saya = Rek, ayo makan nasi pecel di pasar! Saya lapar)

Kane lop’ (Enak pol = enak banget)

Laham. Ora odis wes’ (mahal, ora sido wes = mahal, nggak jadi deh)

Ayas ladub nang omah e umak sek yo. Ojok lali kewud e digowo’ (saya budal nang omah e kamu sek yo. Ojok lali duwek e digowo = Saya berangkat ke rumah kamu dulu ya. Jangan lupa uangnya dibawa)

Dari beberapa penggunaan diatas, beberapa kata di ambil dari Bahasa  Indonesia, dan tidak semua Bahasa Jawa bisa dibalik seenaknya. Karena tidak ada pakem dalam penggunaan bahasa ini. Yang bisa menggunakannya siapa? Ya orang Malang sendiri.

Kapan menggunakan bahasa ini?

Seperti tujuannya yang menjadi bahasa sandi, kera ngalam menggunakannya sehari-hari terutama ketika mereka keluar kota Malang. You know, kadang kita menggunakan ‘kode rahasian’ ketika berbicara ditempat asing dengan tujuan membicarakan apapun yang berhubungan dengan tempat asing tersebut tanpa orang asing tersebut sadar kalau kita sedang membicarakannya kan? Oke, make it short, digunakan ketika nyinyir. #becanda

Bangga menjadi bagian dari kota ini. Wes yo, ayas ladub soda sek. See you on next post.

Pr/Br